Monday, July 29, 2013

cuap-cuap utrecht belanda



   Kemarin tanggal 24 Juli. Saya, Shalli (Cina), Zooey dan Cheng (Taiwan), dan Matt (Rumania) mengunjungi Rietveld Schroderhuis di Utrecht untuk tugas kelompok. Pada awalnya kami kira tempat tersebut berada di dekat stasiun Utrecht Centraal, ternyata tempatnya agak terpencil dan berada di antara rumah penduduk sehingga kami harus beberapa kali bertanya dengan warga sekitar. Belakangan baru saya ketahui dulunya rumah ini memang dibangun untuk tempat tinggal keluarga, bukan musium atau sejenisnya. Untuk ukuran rumah tinggal tahun 1920-an bisa dibilang ini merupakan rumah dengan arsitektur yang tak lazim bila dibandingkan dengan rumah lain pada tahun tersebut. Ternyata rumah ini  merupakan cikal bakal dari rumah berarsitektur modern.
  Sebelum memasuki rumah tersebut, kami diharuskan menggunakan plastik shoes cover agar kebersihan rumah terjaga, dan juga menitipkan tas dan kamera di loker. Kami dipandu oleh seorang pemandu wisata, namun kami diberi kertas keterangan dan juga audio speaker yang berisi tentang keterangan setiap ruangan (sayang ga ada bahasa indonesia-nya) jadi setiap masuk ruangan tinggal pencet nomernya deh yang ada di kertas. (misal: No. 12 : bedroom)
(karna ga boleh foto-foto jadi gambar rumahnya saya ambil dari google) gambar 1 dan gambar 2


Ini rumah yang lazim pada tahun 1920-an di Belanda
Ini adalah Ruitveld Schroder House yg dibangun tahun 1920-an




























    Rumah ini didesain oleh Gerrit Rietveld untuk Truus Schroder dan 3 anaknya. Gerrit Rietveld dengan pemikiran jeniusnya membuat rumah dengan gaya futuristik dan tentu dengan interior yang lain daripada yang lain. Berikut informasi lebih jelas tentang Rietveld-Schroder House, atau juga yang dikenal sebagai Small White House.
    Setelah selesai kami pun memutuskan untuk berpisah. Saya dan Shalli memutuskan untuk pergi ke tengah kota Utrecht, ke jalan Oudegracht. Hari itu sangat panas dan setelah puas berkeliling dan berbelanja kami memutuskan untuk mampir ke salah satu restoran cepat saji. Nah, tiba giliran saya memesan "one regular cola, please" lalu mbak2 nya ngomong sesuatu dalam bahasa Belanda, mungkin mengulang pesanan saya. Kemudian.. "#%j*..#". Haaah? dia berbicara sesuatu seolah bertanya kepada saya. Mungkin ada kayanya sekitar 3 kali dia mengulang kalimatnya dengan aksen dutch yg berat. Sependengaran saya sih dia bilang "Twee or yoo" (twee dlm dutch artinya dua). Saya masih mengira dia ngomong dlm bhs belanda. Kemudian saya bilang "sorry?" dia makin jutek sambil terus bilang kalimat itu sambil bibirnya mencong2. Saya pun menoleh ke Shalli, trus dia bisikin "3 Euro".
   Ohmaigaaat, ini gue yang bolot apa doi yang aksennya berat banget yaa, eh tapi belanja2 sebelumnya bae-bae aja tuh. haha. Akhirnya saya bayar lalu dia ngasih cola dan sedotan sambil bilang "alstublieft!" jutek gituu. Pas duduk kami cekikikan berdua trus Shalli bilang "I don't understand at first, until she said for two times" lalu kami ketawa2 lagi sambil menirukan "twee or yoo" plus bibir mencong.
   Tak terasa ternyata sudah jam 08.00 malam tapi matahari belum terbenam dan masih panas terik. Lalu kami pun pulang dengan menaiki bus 120 yang supirnya masih muda dan kata Shalli mirip Justin Timberlake versi obesitas. Saat itu di bis hanya ada kami berdua dan 2 mahasiswi dari Korea teman sekelas kami, yang bertemu di halte. Kemudian kami beristrahat di bis sampai.. DANG!! Bus yang kami tumpangi berserempetan dengan mobil di lampu merah sampai spion mobil tersebut rusak parah. Aduh musibah apalagi nih?
  Setelah menepi keluarlah 2 cowok berwajah latin yang lumayan. Kemudian supir bis kamipun turun. Mereka terlihat beradu argumen sekitar 10 menit. Lalu sang supir bus terlihat menelpon seseorang. Jam menunjukan pukul setengah 9. Supir tersebut masuk kembali ke bis kemudian bilang "neng, ntar ada bis laen yang dateng sekitar 15 menitan lagi, tunggu aje ye neng" kira-kira seperti itulah dalam versi metromini.
  Ngga lama kemudian datanglah polisi yang mirip Richard Gere dan polwan.
Si supir bis menjelaskan sambil nunjuk2 lampu merah, 2 pemuda tadi ngga mau kalah. Akhirnya pak polisi mengeluarkan semacam kertas dan 2 pemuda tersebut yang disuruh ngisi. Kemudian bis 120 yang lain pun datang dan kami meneruskan perjalanan pulang.
   


    Kami sampai di kampus sekitar jam 9.15 malam. Untung masih terang. Capek sih hari ini, panas lagi. Ditambah insiden "twee or yoo" dan bang justin kw 9. Tapi menyenangkan, dapet postcard banyak, main ke Dom Tower dan sekitarnya. Meskipun pengalamannya ngga cakep2 amat, tapi justru itulah yang pasti selalu diingat2. hehe






dom tower

jalan menuju dorm

my dorm


Tuesday, July 23, 2013

Nyenrode Bell Tower and Jan Willem Achterkamp

   Hari Senin 22 Juli 2013 adalah hari pertama program summer course yang dibuka dengan  Welcome and Introduction to the course. 
Senang rasanya berkesempatan kuliah di 
Belanda dan berteman dengan mahasiswa lain dr berbagai negara, hanya bermodal menulis gak lebih dr 500 kata bisa mendapatkan kesempatan yg mungkin sekali seumur hidup ini.
Terima kasih banyak
Neso telah membuka kesempatan ini untuk saya. hehe.
   
   Kemudian sorenya, kami melakukan tur ke Nyenrode Bell Tower dipandu oleh meneer Jan Willem Achterkamp. Tur kami dibagi menjadi beberapa kelompok, nah kelompok saya kebagian kloter terakhir untuk naik ke atas tower di kastil Nyenrode. Meski telah memandu beberapa kelompok sebelumnya untuk naik ke atas tower dan menampilkan Carillonrecital semacam resital dengan lonceng, ia masih  bersemangat meskipun usianya sudah tidak muda lagi. 
Kasteel Nyenrode yang berubah fungsi menjadi kampus



sebagian sedang dipugar


pemandangan dari atas bell tower

this's how the bell works automatically



    Setelah tur di sekitar kastil. kami pun mengunjungi rose garden yang berada tepat di belakang kastil. This is a very romantic place but unfortunately there is a few roses withered. But still, it's a very nice and peaceful place.





   Daan ini cuplikan meneer Jan Willem Achterkamp memainkan lonceng di menara kastil Nyenrode (baca: nainrod).

 
Kalo ngga ada suara tuts-nya mungkin akan lebih bagus lagi. hehe

  Hari ini saya menjalani perkuliahan seperti biasa diikuti dengan seminar. Di akhir kuliah kami diberikan deskripsi untuk tugas kelompok mendatang. Kami diberikan beberapa pilihan topik untuk dipresentasikan minggu depan, dan kelompok saya memilih Rietveld Schroder House di Utrecht dan kami berencana untuk mengunjunginya besok. Wish us luck!


Sunday, July 21, 2013

First day in Holland

   Kata pertama yang diucapkan pas mendarat di Schiphol yaitu >> "Alhamdulillaaaah".
Yaaa.. selain karena akhirnya menginjakkan kaki di Belanda, legaa rasanya bebas dari perjalanan  cengkareng-kuala lumpur-amsterdam selama 15 jam yang membuat tulang ekor memberontak hendak lompat menuju darat #apaan. Tapi semua rasa lelah, pegal, kram, kesemutan ituu terbayar lunas ketika semburat cahaya matahari pagi mempercantik bandara Schiphol yang memang cuacanya hari ini lovely bgt (tadi pagi sih masih 17°C sekarang sekitar 27° C).
   Mungkin kalo perjalanan ini dijalanin rame2 atau minimal berdua laah, ga bakal kerasa capeknya karena ada temen yang bisa diajak ngobrol dan berbagi keluh kesah. Sayang ka Dyah beda course :'
   Dari sekian banyak course di USS, ada dua pilihan course yang ditawarkan pihak Neso kepada dua pemenang utama K2013, yaitu:
- Dutch Culture: History and Art
- Dutch Culture: Society and Current Issues

nah, saya pilih yang pertama karena lebih berminat di bidang itu. Sedangkan ka Dyah pilih yang kedua yang berlangsung tanggal 5 Agustus nanti. Kedua course tersebut bertempat di Nyenrode Campus di kota Breukelen, selemparan batu dari kota Utrecht.

   Berbekal hatam pre-departure information serta petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa (dan emang petunjuk di Belanda tepat bgt siih), saya berhasil menuju kota Breukelen dengan selamat daaan tanpa nyasar lhoo #whoop \(^^)/. Ketika sampai di stasiun sudah ada tiga peserta lain dan pihak USS yang menjemput terus naik bis kecil deh yang langsung masuk kampus, lumayan hemat tenaga dan 2 euro, hehe.


  Berbeda dengan kota Amsterdam dan Utrecht, si Breukelen ini temanya lebih ke pedesaan gituu. Selama perjalanan naik kereta pemandangan di luar jendela kebanyakan hamparan rumput hijau yang dihiasi sapi-sapi dan beberapa kincir angin (maap yaa kincir anginnya udah kelewatan :')

 

   Nah kembali ke kampus. Setelah isi form, ambil kunci ambil goodie bag saya langsung menuju kamar. Ternyata di dalem udah ada temen sekamar saya dan dua temennya yang lagi main. Namanya Shali, dia dari Beijing dan course yang kami ambil sama.








Terima kasih ya Allah telah mengabulkan doaku dengan perantara NESO Indonesia dan pastinya Mba Mira yang sibuk ngurusin saya dan ka Dyah dari hari pengumuman pemenang sampe sekarang, hehe. Sekali lagi Alhamdu? lillaah :D